Perjalanan kita adalah sebuah fase yang dinamis yang terus berproses hingga menuju sebuah kesempurnaan
Its Me
- Nenk Dezthree
- full time mom (at least for present).. with great handsome hubby n 2 cute boys.. yeay, I love them so much :-*)
Sabtu, Februari 19, 2011
Hafy's Birthday
Sabtu, Desember 25, 2010
Jalan jalan

Hardly wait my sons growth up...
setiap kali 'surfing' tempat tempat wisata di inet.. kpingiiin skali main kesana.. but sabar mom, anak2 masi terlalu kecil untk diajak jalan-jalan ke tempat2 wisata itu (bisik hati yang lain)...
but its ok.. nabung n doa biar selalu diberi kesehatan n kemampuan biar pada saat yang tepat kita sekeluarga bisa main ke tempat tempat yang selama ini mama liat di dunia maya ya nak amiin :)
Rabu, Desember 22, 2010
Be Grateful
Selasa, Desember 21, 2010
Yang baru..

Setelah sekian lama vakum.. baru sekarang nyempatin diri corat coret my blog (yg masih sangat sederhana ini) lagi :)
oh ya.. Alhamdulillah menginjak tahun ke 4 pernikahan, tepatnya 3,5 tahun. kami di anugrahi lagi satu putra.. yang di beri nama Hafy Shidqi Adrymansyah yang artinya anak Destry dan Yulismansyah yang "lurus" dan dermawan, amiin..
Hafy lahir 10 bulan yang lalu, Feb 18, 2010... Sehat2 terus ya nak.. cepet gede, tambah pinter, tambah ganting n nggemezzin..
Panggilannya adek hafy.. adek suka banget di foto alias sadar kamer, setiap kali mo di foto adek pasti langsung gaya.. nih dia foto-fotonya :)
Minggu, Mei 09, 2010
JANGAN ANGGAP ENTENG CAMPAK
"Hati-hati, lo, sekarang musim tampek. Kemarin saja anak tetangga saya kena. Sekarang anak saya ketularan. Di seluruh tubuhnya timbul bercak-bercak merah dan badannya panas sekali," begitu peringatan seorang ibu kepada teman-temannya. Apa sih yang dimaksud dengan tampek itu? Dijawab oleh dr. Asti Praborini, SpA., yang akrab disapa Rini, tampek tak lain adalah campak.
"Tampek merupakan bahasa Jawa namun istilah Indonesianya adalah campak. Sedangkan orang dari Irian menyebutnya serampah. Dalam bahasa latin disebut sebagai morbili atau rubeolla. Sementara dalam bahasa Inggris, measles," tutur spesialis anak dari RS MH Thamrin Internasional, Jakarta ini.
PENYEBAB CAMPAK
Penyebab penyakit campak adalah virus campak atau morbili. Pada awalnya, gejala campak agak sulit dideteksi. Namun, secara garis besar penyakit campak bisa dibagi menjadi 3 fase. Fase pertama disebut masa inkubasi yang berlangsung sekitar 10-12 hari. Pada fase ini, anak sudah mulai terkena infeksi tapi pada dirinya belum tampak gejala apa pun. Bercak-bercak merah yang merupakan ciri khas campak belum keluar. Pada fase kedua (fase prodormal) barulah timbul gejala yang mirip penyakit flu, seperti batuk, pilek, dan demam. Mata tampak kemerah-merahan dan berair. Bila melihat sesuatu, mata akan silau (photo phobia). Di sebelah dalam mulutmuncul bintik-bintik putih yang akan bertahan 3-4 hari. Terkadang anak juga mengalami diare. Satu-dua hari kemudian timbul demam tinggi yang turun naik, berkisar 38-40,5 derajat Celcius.
Fase ketiga ditandai dengan keluarnya bercak merah seiring dengan demam tinggi yang terjadi. Namun, bercak tak langsung muncul di seluruh tubuh, melainkan bertahap dan merambat. Bermula dari belakang kuping, leher, dada, muka, tangan dan kaki. Warnanya pun khas; merah dengan ukuran yang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil.
Bercak-bercak merah ini dalam bahasa kedokterannya disebut makulopapuler. Biasanya bercak memenuhi seluruh tubuh dalam waktu sekitar satu minggu. Namun, ini pun tergantung padadaya tahan tubuh masing-masing anak. Bila daya tahan tubuhnya baik maka bercak merahnya tak terlalu menyebar dan tak terlalu penuh. Umumnya jika bercak merahnya sudah keluar, demam akan turun dengan sendirinya. Bercak merah pun makin lama menjadi kehitaman dan bersisik (hiperpigmentasi), lalu rontok atau sembuh dengan sendirinya. Periode ini merupakan masa penyembuhan yang butuh waktu sampai 2 minggu.
CARA PENULARAN
Yang patut diwaspadai, penularan penyakit campak berlangsung sangat cepat melalui perantara udara atau semburan ludah (droplet) yang terisap lewat hidung atau mulut. Penularan terjadi pada masa fase kedua hingga 1-2 hari setelah bercak merah timbul. Sayangnya, masih ada anggapan yang salah dalam masyarakat akan penyakit campak. Misalnya, bila satu anggota keluarga terkena campak, maka anggota keluarga lain sengaja ditulari agar sekalian repot. Alasannya, bukankah campak hanya terjadi sekali seumur hidup? Jadi kalau waktu kecil sudah pernah campak, setelah itu akan aman selamanya. Ini jelas pendapat yang tidak benar karena penyakit bukanlah untuk ditularkan. Apalagi dampak campak cukup berbahaya.
Anggapan lain yang patut diluruskan, yaitu bahwa bercak merah pada campak harus keluar semua karena kalau tidak malah akan membahayakan penderita. Yang benar, justru jumlah bercak menandakan ringan-beratnya campak. Semakin banyak jumlahnya berarti semakin berat penyakitnya. Dokter justru akan mengusahakan agar campak pada anak tidak menjadi semakin parah atau bercak merahnya tidak sampai muncul di sekujur tubuh.
Selain itu, masih banyak orang tua yang memperlakukan anak campak secara salah. Salah satunya, anak tidak dimandikan. Dikhawatirkan, keringat yang melekat pada tubuh anak menimbulkan rasa lengket dan gatal yang mendorongnya menggaruk kulit dengan tangan yang tidak bersih sehingga terjadi infeksi berupa bisul-bisul kecil bernanah. Sebaliknya, dengan mandi anak akan merasa nyaman.
PENGOBATAN GEJALA
Pengobatan campak dilakukan dengan mengobati gejala yang timbul. Demam yang terjadi akan ditangani dengan obat penurun demam. Jika anak mengalami diare maka diberi obat untuk mengatasi diarenya. Batuk akan diatasi dengan mengobati batuknya. Dokter pun akan menyiapkan obat antikejang bila anak punya bakat kejang.
Intinya, segala gejala yang muncul harus diobati karena jika tidak, maka campak bisa berbahaya. Dampaknya bisa bermacam-macam, bahkan bisa terjadi komplikasi. Perlu diketahui, penyakit campak dikategorikan sebagai penyakit campak ringan dan yang berat. Disebut ringan, bila setelah 1-2 hari pengobatan, gejala-gejala yang timbul membaik. Disebut berat bila pengobatan yang diberikan sudah tak mempan karena mungkin sudah ada komplikasi.
Komplikasi dapat terjadi karena virus campak menyebar melalui aliran darah ke jaringan tubuh lainnya. Yang paling sering menimbulkan kematian pada anak adalah kompilkasi radang paru-paru (broncho pneumonia) dan radang otak (ensefalitis). Komplikasi ini bisa terjadi cepat selama berlangsung penyakitnya.
Gejala ensefalitis yaitu kejang satu kali atau berulang, kesadaran anak menurun, dan panasnya susah turun karena sudah terjadi infeksi "tumpangan" yang sampai ke otak. Lain halnya, komplikasi radang paru-paru ditandai dengan batuk berdahak, pilek, dan sesak napas. Jadi, kematian yang ditimbulkan biasanya bukan karena penyakit campak itu sendiri, melainkan karena komplikasi. Umumnya campak yang berat terjadi pada anak yang kurang gizi.
PENANGANAN YANG BENAR
Inilah yang dianjurkan Rini:
* Bila campaknya ringan, anak cukup dirawat di rumah. Kalau campaknya berat atau sampai terjadi komplikasi maka harus dirawat di rumah sakit.
* Anak campak perlu dirawat di tempat tersendiri agar tidak menularkan penyakitnya kepada yang lain. Apalagi bila ada bayi di rumah yang belum mendapat imunisasi campak.
* Beri penderita asupan makanan bergizi seimbang dan cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya. Makanannya harus mudah dicerna, karena anak campak rentan terjangkit infeksi lain, seperti radang tenggorokan, flu, atau lainnya. Masa rentan ini masih berlangsung sebulan setelah sembuh karena daya tahan tubuh penderita yang masih lemah.
* Lakukan pengobatan yang tepat dengan berkonsultasi pada dokter.
* Jaga kebersihan tubuh anak dengan tetap memandikannya.
* Anak perlu beristirahat yang cukup.
PENTINGNYA IMUNISASI CAMPAK
Semua penyakit yang disebabkan virus bersifat endemis. Artinya bisa muncul kapan saja sepanjang tahun, tidak mengenal musim. Oleh karena itu, menurut Rini, campak pada anak perlu dicegah dengan imunisasi. Apalagi campak banyak menyerang anak usia balita. Seharusnya, vaksin campak tak memiliki efek samping, tapi karena vaksin dibuat dari virus yang dilemahkan, maka bisa saja satu dari sekian juta virusnya menimbulkan efek samping. Umpamanya, setelah diimunisasi campak, anak jadi panas atau diare.
Sebenarnya bayi mendapatkan antibodi dari ibunya melalui plasenta saat hamil. Namun, antibodi dari ibu pada tubuh bayi itu akan semakin menurun pada usia kesembilan bulan. Lantaran itu, pemberian imunisasi campak dilakukan di usia tersebut. Kemudian, karena tubuh bayi di bawah 9 bulan belum bisa membentuk kekebalan tubuh dengan baik maka pemberian vaksinasi campak diulang di usia 15 bulan dengan imunisasi MMR (Measles, Mumps and Rubella). Dengan vaksinasi ini diharapkan bilapun anak terkena campak, maka dampaknya tidak sampai berat atau fatal karena tubuh sudah memiliki antibodinya.
Hanya saja, karena saat ini terdapat kecurigaan bahwa bahan pengawet pada vaksin MMR dapat memicu autisme, akhirnya pemberian imunisasi campak tidak diulang. Menurut Rini, kekhawatiran itu tidak perlu ada lagi jika anak sudah mencapai usia tiga tahun dan mengalami proses tumbuh kembang yang normal. "Sebaiknya anak divaksinasi saja. Boleh ditunda tapi jangan sampai ditiadakan. Sampai besar pun masih bisa divaksinasi. Lebih baik mencegah daripada mengobati."
BEDANYA DENGAN CAMPAK JERMAN
Campak Jerman atau rubela berbeda dari campak biasa. Pada anak, campak jerman jarang terjadi dan dampaknya tak sampai fatal. "Kalaupun ada biasanya terjadi pada anak yang lebih besar, sekitar usia 5 sampai 14 tahun," kata Rini.
Gejalanya hampir sama dengan campak biasa, seperti flu, batuk, pilek dan demam tinggi. Namun, bercak merah yang timbul tidak akan sampai terlalu parah dan cepat menghilang dalam waktu 3 hari. Nafsu makan penderita juga biasanya menurun karena terjadi pembengkakan limpa.
Yang perlu dikhawatirkan jika campak jerman ini menyerang wanita hamil karena bisa menular pada janin melalui plasenta (ari-ari). Akibatnya, anak yang dilahirkan akan mengalami sindrom rubela kongenital. Mata bayi akan mengalami katarak begitu lahir, ada ketulian, dan ada pengapuran di otak, sehingga anak bisa mengalami keterbelakangan perkembangan.
Jadi, setiap anak perempuan sebaiknya mendapat vaksinasi rubela untuk melindungi janinnya bila ia hamil kelak. Pada anak perempuan kekebalan ini nantinya akan diturunkan kepada bayinya hingga berusia 9 bulan. Rini pun memandang perlunya vaksinasi rubela pada pria, karena campak jerman yang mungkin menjangkitinya bisa menulari sang istri yang tengah hamil.
Minggu, Februari 15, 2009
Tidur Ampuh Tangkis Flu
Jika Anda merasa hidung mulai mampet dan tubuh demam sebagai gejala flu, maka siapkan bantal dan selimut untuk tidur. Mengistirahatkan tubuh dengan tidur memang merupakan salah satu cara ampuh menangkis flu.
Dalam sebuah penelitian di Chicago, Amerika Serikat, para sukarelawan dibayar 800 dolar AS untuk disemprotkan virus flu di sekitar hidung dan menginap di hotel selama lima hari untuk mengetahui apakah mereka benar-benar menjadi sakit.
Dosen Universitas Pitsburgh Carnagie Mellon yang mempelajari pengaruh stres, Sheldon Cohen mengatakan selama tidur cukup tubuh akan terasa fit dan itu cukup untuk terhindar dari flu.
Sementara itu, Peneliti Universitas California Dr. Michael Irwin mengatakan, penelitian sebelumnya menyatakan tidur yang cukup akan memantapkan sistem kekebalan tubuh. Hasil penelitian itu merupakan yang pertama kali mengaitkan antara kualitas tidur dengan risiko terhadap penyakit.
"Pesan yang terkandung mencoba mengingatkan kembali untuk tidur dengan jam normal,karena itu merupakan hal yang sangat penting untuk kesehatan," ujar Irwin.
Selama musim flu, hendaknya Anda menjauhi diri dari bersin orang lain dan penyebab lain. Sebuah studi di arsip internal kesehatan menyatakan, hal-hal tersebut penyebab utama pembawa virus flu dan kebanyakan menjadi terinfeksi. Akan tetap setiap orang tidak mendapat gejala flu.
Bagi masyarakat yang tidur kurang dari tujuh jam semalam dalam seminggu, akan lebih rentan 3 kali terkena virus flu ketimbang yang tidur selama delapan jam atau lebih dalam semalam.
Untuk menemukan penyebab flu,peneliti merekrut 78 pria dan 75 wanita, yang kondisi tubuhnya sehat dan masing-masing akan melawan virus.
Pertama, kebiasaan tidur mereka akan dimonitor selama dua minggu. Setiap malam, peneliti menwawancarai mereka lewat telepon sebelum mereka tidur. Pertanyaan yang diajukan seputar apa yang mereka lalukan ketika akan pergi tidur, dan kapan mereka bangun dan berapa lama waktu yang mereka habiskan ketika mereka bangun tengah malam dan jika beristirahat ketika pagi hari.
Kemudian mereka akan dibawa ke Hotel, saat virus disebarkan. Setelah lima hari,virus telah bekerja dengan baik menginfeksi 135 dari 153 sukarelawan. Tetapi hanya 54 orang yang sakit.
Selain itu, para peneliti juga mencoba melakukan percobaan dengan menggunakan tisu yang ditaruh virus, yang ditujukan kepada orang-orang yang memiliki kelebihan jam tidur. Dari situ bisa diketahui orang yang 8% kelebihan jam tidur dapat terkena flu lima kali lipat daripada orang yang kelebihan jam tidur sekitar 2%.
Menurut Cohen, tidur merupakan cara terbaik untuk meningkatkan respon kekebalan pada tubuh.
Sementara itu,peneliti masalah tidur asal Universitas Pitsburgh, Daniel Buysee dalam studinyamengatakan, terlalu banyak menghabiskan waktu ditempat tidur juga akan menggangu kualitas tidur. "Anda akan memperoleh manfaat jika tidur secukupnya,"ujarnya.
Teliti Fosfor, Sayangi Ginjal Anda
HINDARI TINGGI FOSFOR: Makanan cepat saji mengandung fosfor sekaligus zat aditif berfosfor, harus dihindari penderita penyakit ginjal
JAKARTA -- Penderita penyakit seputar ginjal atau mereka yang memiliki ginjal sensitif sebaiknya berhati-hati mengonsumsi makanan. Terlalu banyak asupan makanan mengandung fosfor bisa berbahaya bahkan fatal bagi pasien penderita ginjal. Namun tindakan edukasi terbaru membantu pasien mengurangi resiko tersebut
Pasien dengan gangguan ginjal menengah hingga parah memiliki kesulitan mensekresi fosfor yang dapat mengganggu kimia tubuh. Kadar fosfor dalam darah yang meningkat, menaikkan resiko sakit bahkan kematian. Pasien dengan penyakit ginjal memang disarankan membatasi asupan makanan, bahkan yang secara alami, mengandung fosor, seperti daging, produk susuk, gandum dan olahannya, dan kacang. Namun kini, menurut penelitian, tak sedikit pula zat aditif mengandung fosfor yang sering ditambahkan dalam proses pembuatan makanan, termasuk makanan siap saji.
Pelarangan ini juga berlaku pasien 279 ESRD atau end-stage renal disease, atau penyakit ginjal tahap akhir yang mengalami peningkatan kadar fosfor darah (lebih besar dari 5,5 miligram per desiliter (mg/dl).
Sejumlah 145 pasien penyakit ginjal yang diteliti oleh tim riset Amerika Serikat (AS), masuk kelompok pertama, akan menerima edukasi cara menghindari zat aditif fosfor saat membeli makanan di toko grosir atau di restoran cepat-saji. Sementara sisanya. masuk grup kedua yakni 134 orang, diteruskan mendapat perawatan dan kontrol seperti biasa.
Saat studi dimulai, rata-rata kadar fosfor darah ialah 7,2 mg/dl di grup pertama dan kadar fosfor grup kedua sebesar 7,1 mg/dl. Setelah studi dilakukan tiga bulan, kedua level tersebut menurun, tapi di kelompok pertama menurun sebesar 1.0 mg/dl, sedangkan di kelompok kedua hanya menurun 0,4 mg/dl. Pasien di grup pertama sepertinya juga terlihat semakin waspada dengan melihat label daftar bahan makanan dan fakta nutrisi dengan seksama di label kemasan makanan.
Penelitian itu sendiri baru saja dipublikasikan 11 Februari lalu di Journal of the American Medical Associaton. " Penurunan 0.6 mg/dl lebih banyak di kalangan kelompok pertama dibanding kelompok kedua juga berarti, kelompok pertama memiliki penurunan 5-15 persen resiko lebih rendah dalam kematian akibat gagal ginjal," demikian bunyi salah satu kalimat dalam artikel jurnal yang ditulis pemimpin penelitian, Catherine Sullivan.
"Penemuan kami meningkatkan faktor kemungkinan, bahwa makanan kemasan dan siap-saji berkontribusi menyebabkan hiperfosfatemia, kejadian gagal jantung, dan penyakit tulang yang diderita kalangan pasien ESRD. Hasil penelitian kami memiliki implikasi penting bagi pasien, rumah sakit, peneliti, dan pembuat kebijakan," tulis pakar dari Pusat Medis MetroHealth, dan Case Western Reserve di Universitas Cleveland tersebut.
"Pasien dengan ESRD dan rumah sakit harus mempelajari baik makanan alami mengandung fosfor dan zat aditif berfosfor, selain itu pasien juga mesti membatasi asupan fosfor total hanya 800 hingga 1000 miligram per hari sebagaimana yang direkomendasikan oleh pakar kesehatan dan ahli ginjal," bunyi artikel studi tersebut lebih lanjut
Mereka juga menambahkan para peneliti harus semakin fokus mengembangkan metode lebih lanjut mencegah dan mengatasi hyperfosfatemia dan pemegang kebijakan mesti mempertimbangkan cara mengatasi kendala di lapangan, seperti menetapkan pencantuman kandungan fosfor dalam label nutrisi makanan kemasan./healthday/it
Rabu, Desember 31, 2008
Kepada Ahza..
Tak terhingga, sepanjang masa..
Hanya memberi..
Tak harap kembali..
bagai sang surya, menyinari dunia"
When I sing this song, my cute Ahza always stopped his activity then he stare and smile at me for a minutes, he looks enthusias... seemly he knows that I really loves him much.